Jumat, 06 Januari 2017

# KIMBUM_POV
Hari ini aku sangat lelah. Kegiatan disekolah benar-benar menguras tenagaku. Dari mulai PR, tugas kelompok ditambah kegiatan eskul hari ini tidak boleh absen sama sekali. Dan juga ajakan teman-temanku untuk mengikuti balapan motor malam ini. Ingin sekali aku menolak nya, tapi rasa tidak enak lebih mendominasiku . Akhirnya aku turuti keinginan mereka semua. Itu sebabnya aku pulang larut malam ini. Baru satu langkah aku memasuki rumah, tiba-tiba ayah muncul dan memintaku untuk masuk keruang kerjanya. Untuk apa dia memanggilku keruangannya? Ah yaa pasti untuk melakukan rutinitasnya menceramahiku. Tapi aku heran, kenapa kali ini di ruang kerjanya?. Aah molla. "Kim bum" appa memanggilku. "Ne" "Kau tau alasanku memintamu untuk keruanganku?" tanya appa. "Aniyo" jawabku. Sebenarnya aku tau alasannya, apalagi kalau bukan untuk memarahiku. "Appa mempunyai satu permintaan dan appa harap kau menurutinya." wow. Kukira appa akan memarahiku, ternyata tidak. Lega rasanya. "Appa minta kau bersedia unuk bertunangan minggu depan!" katanya. Baru sebentar aku merasakan kelegaan, appa memberikanku satu lagi kejutan yang tentu saja membuatku kaget. "Mwo... Be-bertunangan?Appa bercanda" aku? Bertunangan? Diusiaku yang belum cukup matang untuk berumah tangga. Bukannya aku berlebihan dengan mengatakan berumah tangga padahal appa baru mengatakan pertunangan. Tapi itu sama sajakan, jika sudah bertunangan pasti akan ada pernikahan dikemudian hari. Sebenarnya apa yang appa rencanakan. "Jadi?" "Mwo?" pura-pura, tentu saja. "Aaish. Jangan pura-pura tuli kau. Kau setuju atau tidak pertunangan itu akan tetap dilakukan minggu depan. Titik. " tegas appa. "Appa" marahku. "jangan mengatur kehidupanku. Aku bukan anak kecil, aku sudah dewasa appa." kataku. Apa dijaman sekarang masih ada yang namanya perjodohan? Ahaa bukan, lebih tepatnya pemaksaan. Benar-benar konyol. "Bukan anak kecil katamu? Dewasa katamu? Kalau begitu buktikan padaku jika kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa."tantangappaku. "Baiklah. Aku ikuti permainan appa. Aku bersedia bertunangan minggu depan" appa belum tahu aku yang sesungguhnya. Setelah appa selesai bicara aku pamit untuk pergi kekamarku. Hari ini badanku terasa remuk, ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidurku yang sanga nyaman itu. Huft. Sesampainya dikamar tujuanku saat ini yaitu kasurku. 'Ooh Kasurku, aku membutuhkan kenyamanan darimu'. Gilaaa. Aku rasa aku mulai gila kali ini. Mengingat percakapanku dengan appa barusan, kira-kira siapa yang akan appa jodohkan denganku. Aku harap ia cantik, tinggi, masih muda dan yang paling penting tidak cerewet. Jujur saja aku sangat malas dengan wanita semacam itu. .
%%%%%
. Matahari kembali muncul dengan memancarkan sinar yang cukup terang. Sinar yang menembus celah-celah jendela kamar seorang pria, dengan harapan sang pemilik kamar tersebut akan terusik dengan kedatangannya. Dan benar sa, kim bum pun terbangun dengan wajah kesalnya. 'Aku paling benci sinar dipagi hari.' gerutuku. Aish jam berapa sekarang? Rasanya aku baru tidur satu jam yang lalu. Kulirik jam kecil yang ada di meja samping tempat tidurku untuk memastikan pukul berapa sekarang. "Mwo... 06.30" "Hari apa sekarang?" "senin, selasa, ra-rabu...si kepala botak" Sial. Aku kesiangan lagi kali ini. Kenapa selalu bangun siang saat jadwal si laki-laki botak itu. Siapa lagi kalau bukan Jang seonsangnim, guru killer di sekolahku. ARGHH. Aku harus cepat hari ini jangan sampai ak0jadi bulan-bulanan guru itu lagi. Akupun bergegas ke kamar mandi, karena waktuku hanya 1 jam. 1 jam itu sebenarnya lebih dari cukup untuk bersiap-siap dan sampai ke sekolahan, tapi itu untukmurid yang rumah nya dekat dengan sekolahan. Sedangkan aku, butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Benar-benar. Terkadang aku heran, kenapa appa suka sekali menyiksaku. Memintaku sekolah disana, padahal dia tau sekolahan itu sangat jauh. Selesai bersiap, aku langsung menuju kelantai bawah dan kulihat disana appa sedang duduk santai sambil membaca koran seperti biasanya, sedangkan eomma terlihat sibuk membantu lee ajhuma menyiapkan sarapan pagi.
# POV_End
"Eomma...bum berangkat" kimbum "sarapan dulu bummie" ny.kim "Tidak sempat eomma" bum mendekati eommanya dan mencium sekilas pipi sang eomma. "bum berangkat, saranghae eomma sayang" ny.kim tersenyum. Melihat kimbum menuju kearahnya, tn.kim langsung angkat bicara. "Bum, hari ini kau harus pulang cepat. Arasso" tn.kim "Lihat saja nanti, bum rasa hari ini jadwal bum sangat padat appa"kimbum. "Appa tidak mau tau, kau harus pulang cepat hari ini" tegas tn. Kim terkesan memaksa. "Arra" kimbum mengalah. "kalau begitu bum berangkat, annyeong appa" kimbum "Nde" tn. Kim. Belum lama kim bum pergi, jonwoon pun keluar dari kamarnya. Terlihat sekali jika dia baru saja bangun. Sangat jelas dari rambutnya yang masih berantakan dan saat jongwoon menguap tanda ia masih merasakan kantuk. Melihat itu ny. Kim tersenyum geli. "Pagi eom ma cantik"jongwoon. "Pagi juga sayang"ny.kim."Pagi appa" "nde" tn. Kim "Eomma, dimana adik kecilku?" jonwoon. "Bummie baru saja berangkat woon, sekitar 5 menit yang lalu" ny.kim "Aah sayang sekali" joogwoon. "Woonie" panggil tn.kim Mendengar panggilan appanya,jongwoon langsung saja menghampiri tn. Kim. "Ne appa" "Nanti malam, undang minsun untuk makan malam bersama kita." tn.kim "Untuk apa appa? Apa ada hal yang penting?" jongwoon. " Sudahlah jangan membantah, lagipula apa salah jika appa ingin berbincang dengan calon menantu eoh?" tn. Kim "tentu saja tidak" jongwoon. . Berbeda halnya dengan keluarga kim yang tengah beradu argumen saat hendak sarapan, kim so eun dan kim jong in malah sebaliknya. Diam sejak 15 menit yang lalu tanpa ada yang berniat melayangkan satu kalimat pun pagi ini. Mungkin wajar, karena mereka memang sedang melahap masing-masing makanannya. Tapi tidak ada salahnya kan jika berbincang-bincang sebentar saja. Mungkin ini efek dari perbincangan semalam antara keduanya. Bisa sajakan!!. "Sso" jongin mendengar panggilan oppanya so eun langsung menatap jong in seolah bertanya 'ada apa?' " Hari ini keluarga kim mengundang kita untuk makan malam di rumahnya." jong in. "Baiklah, kita akan kesana" so eun "Oh ya oppa, rencananya minggu depan sso akan kembali ke seoul" so eun. "Untuk apa?" "Aish kau lupa oppa, dongsaengmu ini sudah jadi dokter sekarang! " jelas so eun bangga. "Ya ya ya oppa tau. Tapi bagaimana dengan keluarga kim? Apa mereka akan mengizinkanmu bekerja disana? Berhubung kau akan menjadi menantunya sebentar lagi" Jong in. "Soal itu, Sso akan berbicara dengan paman kim nanti malam oppa" so eun. Keduanya kembali terdiam. "Oppa, sso pamit untuk melihat eomma" "Pergilah" jong in. So eun pun berjalan kekamar eommanya, membuka pintu secara perlahan untuk memastikan keadaan eommanya baik-baik saja. Karena so eun berfikir bahwa eommanya akan sedih berkepanjangan karena ditinggal oleh appanya. Tapi apa yang ia lihat? Eommanya justru terlihat baik-baik saja, ia kembali seperti semula seolah kejadian tempo hari tidak pernah adag. "Eomma" panggil sso. "Sso..kemari nak" jung saena. "Eomma.." sso berlari kepelukan eommanya. "Cup cup cup anak eomma jangan menangis eoh. Kau kan sebentar lagi akan menikah, bagaimana kalau keluarga kim tau kalau calon menantunya adalah gadis yang cengeng dan juga eomma akan merasa kasihan kepada menantu eomma karena mempunyai istri yang hobinya adalah menangis" saena. "Eomma, jangan menggodaku" rengek so eun. "Baiklah, eomma akan diam tapi..." "MWO? Sela so eun cepat. "Tidak" elak saena, eomma sso. "Oh ya. Eomma belum makan bukan, kalau begitu ayoo aku akan menyuapi eomma kali ini." so eun yakin. "Mwo? Di suapi? Yang benar saja eomma bukan anak kecil sso. Eomma bisa sendiri." saena. "Begitu, eomma tidak mau di suapi oleh sso? Baiklah, mulai saat ini sso akan mogok bicara dengan eomma" ancam sso. "Baiklah-baiklah. Eomma mau." saena. "Dia selalu saja mengancamku dengan hal itu. Apa tidak ada yang lain?" lirih saena. Teringgat dulu saat ia tidak menuruti keinginan sso, hampir seminggu dia mendiaminya. Orang tua mana yang tahan jika anaknya tidak mau berbicara selama itu. "Eomma berbicara sesuatu?" so eun bertanya karena eommanya berbicara sangat pelan. "Aaah tidak. Tidak ada" saena gugup. "Kalau begitu, Kajja." so eun menggandeng eomma nya menuju meja makan. .
 %%%%%
. Hari ini jam menunjukkan pukul 8 KST, masih cukup pagi sebenarnya. Tapi tidak untuk Jang seonsangnim. Pagi ini ia bahkan sudah melakukan rutinitas setiap minggunya, yaitu memberikan hukuman kepada satu anak didiknya. Bukan tanpa sebab dia melakukan itu semua, sebenarnya ia juga sudah bosan dengan memberikan hukuman kepada anak didiknya itu. Anak ini memang susah sekali untuk di nasehati. Dia akan memaafkannya jika saja ini adalah yang pertama, tapi kenyataannya ini adalah kali ke 4 untuk bulan ini. Belum untuk 4 bulan sebelumnya, bisa kalian hitung sudah berapa kali laki-laki itu mendapatkan hukuman sampai 5 bulan terakhir. Ya. Laki-laki itu adalah Kim sang bum, putra Kim jung so yang pagi ini kembali mendapat hukuman karena datang terlambat. Lagi. Jang seonsangnim memberikan hukuman lari keliling lapangan sebanyak 50X putaran. Yang benar saja, bisa-bisa dia pingsan karena itu. Pikir kim bum. # flashback_on "Jadi tuan muda kim, alasan apa lagi yang akan kau katakan eoh" Jang seonsangnim "Tidak apa" kim bum dingin. "Bagus. Jadi sekarang kau sudah kehabisan stok alasan eoh. Jujur saja aku senang akan hal itu, jadi aku tidak perlu membuang waktu ku untuk mendengarkan alasan yang keluar dari mulutmu itu" Jang seonsangnim. Kim bum hanya diam, dia tidak ada niatan untuk membalas kata-kata yang keluar dari mulut seonsangnimnya itu. "Aku bingung, apa yang harus kulakukan agar bisa merubah kebiasaan burukmu itu eoh? Berbagai macam hukuman sudah ku berikan tapi kau tidak pernah jera. Sampai kesabaranku berakhir mingu kemarin dengan melayangkan surat panggilan untuk orang tuamu, ku kira kau akan berubah. Tapi apa? Kau mengulanginya lagi hari ini.Sebenarnya apa niatmu sekolah disini eoh.!"tanya Jang seonsangnim. 'Kalau saja guru ini tau bahwa bukan aku yang menginginkan sekolah disini melainkan appa, pasti dia tidak akan berani berkata seperti itu padaku. Dan juga untung saja dia lebih tua dariku kalau tidak sudah dari dulu ku habisi dia' batin kim bum sambil memandang seonsangnim nya tajam. "Apa maksud tatapanmu itu tuan muda? Apa kau pikir aku akan takut,begitu? Kau salah" Jang seonsangnim membalas tatapan kimbum tak kalah tajam. "Jadi, untuk hukumanmu kali ini yaitu beputar mengelilingi lapangan sebanyak 5O putaran tanpa istirahat sedikitpun. Jika berani melakukan itu, tunggu hukuman selanjutnya sepulang sekolah dariku. Ingat itu. Ah ya satu lagi, jika hari berikutnya kau terlambat di jam pelajaranku jangan salahkan aku jika aku mengirimkan surat panggilan ke-2 untuk orang tuamu. Kalau sampai itu terjadi kau pasti tau kan konsekuensi untuk surat panggilan yang ke-3 kalinya" Jang seonsangnim memperingati. # Flashback_off.
 TBC
"syarat?? Apa itu?" .
 # SSO_POV
 "Dengan syarat kau bersedia menjadi menantunya" kata jong in oppa. "Mwo" kaget, tentu saja. Siapa yang tidak kenal keluarga Kim Jung So pemilik perkebunan anggur terluas di sini. Paman kim mempunyai 2 orang putra, kim jongwoon oppa dan kim bum. Apakah paman kim berniat menjodohkanku dengan jongwoo oppa. Tapi itu tidak mungkin, setahuku jongwoon oppa baru saja bertunangan dengan minsun sahabat kecilku. Atau mungkin dengan kim bum?. Aah tidak mungkin. Kim bum kan masih sekolah dan lagi dia jauh lebih muda dariku. Kim so eun apa yang kau pikirkan. Isshh. " Jadi menantunya?" tanyaku memastikan "Ne" "Dengan siapa? Maksud Sso dengan siapa sso akan menikah. Setahu Sso,jongwoon oppa baru saja bertunangan kemarin dengan minsun" kata ku. "Apa mungkin..." "Ya, kamu benar" potong oppaku cepat" "Putra bungsunya??" dia mengangguk. "Jangan gila oppa, kim bum itu 4 tahun lebih muda dariku, apa kata orang nanti eoh. Lagipula dia juga masih sekolah" kataku dengan suara yang cukup keras. Apa mereka gila menikahkan putranya yang baru akan lulus Senior High School tahu depan. Lagipula aku masih ingin menikmati hidupku, pekerjaan baruku, dan merangkai mimpi-mimpi indah sesuai keinginanku. "Tapi sso, kita harus menebusnya" "Astaga, cobaan apa ini tuhan" aku sangat frustasi kali ini. "Mian sso" jong in oppa meraih tanganku. "Gwaenchana oppa" ucapku tersenyum padanya. Sebenarnya ini bukan salah jong in oppa. Dia berusaha menyelamatkan appa meski takdir tidak berpihak padanya. "Appa, tenanglah disana eoh, disini aku akan menjaga eomma serta oppa. Dan maaf atas kesalahanku selama ini. Saranghaeyo Appa"
# POV_End
Dilain tempat, tepatnya dikediaman Kel. Kim Jung So. Tn. Kim tengah berbicara 4 mata dengan anak bungsunya, Kim Sang Bum. Seorang pemuda berusia 17 tahun yang mempunyai perilaku yang bisa dibilang cukup nakal atau lebih tepatnya berandalan. Butuh bukti?! Kim bum selalu pulang larut malam dan lebih-lebih dia menjadi pemimpin geng motor. Kebiasaan kim bum tersebut seringkali membuat tn. Kim kesal. Tidak jarang tetangga dekatnya memprotes tentang keributan yang setiap pagi ia ciftakan. Bagaimana tidak, setiap pagi -bisa dikatakan rutin- teman-temannya akan datang dengan suara knalpot motor yang sangat berisik dan bisa saja membuat telinga orang-orang yang mendengarnya tuli. Tidak cukup dengan suara motor, mereka juga suka sekali berteriak saat memanggl kim bum -benar2 anak geng motor-. Maka dari itu tn. Kim berusaha mengubah kebiasaan serta perilaku buruk kimbum dengan menikahkan putranya. Ia tau ini masih terlalu dini untuk anaknya, tapi toh kim bum akan lulus tahun depan bukan. Jadi tidak masalah. Soal wanita yang akan dijodohkan dengannya ia memilih kim so eun, karena soeun adalah wanita yang sangat cocok menurutnya. Dan juga karena ia tahu so eun berasal dari keluarga baik-baik dan soal perbedaan umur antara keduanya ia harap so eun dapat merubah sifat kimbum. "Jadi?"tnya tn. Kim "Mwo?" balas kim bum pura-pura tidak mendengar. "issh. Jangan pura-pura tuli bum. Kamu setuju atau tidak pertunangan itu akan tetap dilakukan. Titik" tegas ayahnya. "Appa!" suara kimbum nyaring. "jangan mengatur kehidupanku" kata kim bum. "Aku bukan anak kecil appa" lanjutnya "Mwo? Bukan anak kecil!" kata tn. Kim sinis. "Jadi kau merasa sudah dewasa? Jika memang itu benar, buktikan!" tantang ayahnya. "Dengan cara apa aku membuktikan?" "Jika kau merasa sudah dewasa, maka menikahlah. Karena ciri-ciri seorang lelaki dewasa adalah ia berani berkomitmen. Jadi, bagaimana? Kau bersedia? Tantang tn. Kim. "Hanya itu? Baik, aku akan menikah dengan..." "Wanita pilihan appa" potong tn. Kim cepat. "Mwo... Kenapa begitu" kaget kim bum. "Appa ingin kau menikah dengan wanita yang tepat, karena appa yakin kau tidak bisa membedakan mana yang berkualitas dan mana yang tidak" tegas ayahnya. "Terserah appa" kata kim bum kesal. Kim bum pun meninggalkan ruang kerja appanya. Ia sangat lelah hari ini.
. %%%%%
 . Tanpa kim bum ketahui tn. Kim bernafas lega. Akhirnya ia berhasil membuat anaknya bersedia menikah meski dengan cara mengelabui kimbum. Anaknya itu terlalu polos. Kkkk. Melihat kim bum sudah keluar dari ruang kerja suaminya. Ny. Kim pun masuk dan melihat tn. Kim yang sedang melamun. Entah apa yang ia fikirkan. Ny. Kim menghampiri suaminya. "yeobo" panggil ny.kim "Ne....aishh kau mengagetkanku chagi" "Apa yang kau fikirkan hm?" Ny. Kim sambik duduk di sofa diikuti tn. Kim yang duduk disebflahnya. "Kau tau kim so eun?" tnya tn. Kim. "Kim so eun.... Putri kim so ra?" ny.kim memastikan. "Ne" tn. Kim membenarkan. "Ya. Aku tau. Kim so eun wanita yang cantik, manis, pandai pula, beruntung kim sora dan jung sae na memiliki putri sepertinya." jelas ny. Kim. "Dulu aku pernah membayangkan, bagaimana jika kim so eun jadi menantuku. Dan aku dengar dia sudah menjadi dokter sekarang. Benar benar wanita yang sempurna. Ungkap ny. Kim. "Kau ingin itu jadi kenyataan chagi?" tanyat tn. Kim. "Apa maktsudmu yeobo?" ny. Kim."menjadikan so eun menantu kita" tn. Kim santai. "Mwo kau tidak berniat untuk membuat jonwoon berpisah dengan minsun kan?" ny. Kim syok. "Aniyo, tentu saja tidak. Lagi pula kita mempunyai 2 orang putra kan." "Maksudmu kimbum yeobo?" "Ne. Otte??" "Apa kau yakin?. Kim bum masih sekolah dan juga sikapnya masih kekanak-kanakan. Apa so eun bersedia menikah dengan kim bum ditambah usia kimbum dan so eun terpaut cukup jauh. Jelas ny. Kim "Itulah mengapa aku berniat menikahkan kimbum. Agar bisa membuang sikap kekanak-kanakannya dan belajar untuk bertanggung jawab. Dan masalah so eun, aku bisa mengatasinya" tn.kim tersenyum misterius.
. TBC
Author : Widi_kim07 .
 Tittle : The Sad Destiny
Main cast : - Kim so eun
 - Kim sang bum
Other cast : lihat nanti .
. Maaf ceritanya Gaje. Cuma untuk mengisi waktu luang saja. Wkwkkk
*Happy Rading*
. Waktu berputar begitu cepat, seperti angin yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pula membawa pasir-pasir yang tidak bersalah jauh dari kawan sejenisnya. Seperti virus yang tiba-tiba datang membawa takdir yang tidak di inginkan. Merampas semua kebahagiaan yang harusnya dirasakan oleh seorang gadis bernama Kim So Eun. Kebahagiaan yang seharusnya datang sebagai balasan atas apa yang sudah ia perjuangkan selama ini. Menjadi mahasiswi di universitas yang paling bergengsi di Seoul dengan modal kepintaran sangatlah jarang, mendapat beasiswa penuh di salah satu univ. di korea tidaklah mudah, begitupun dengan dirinya. So eun berjuang semampu yang ia bisa demi membahagiakan eomma, appa dan oppa nya di desa. Ya, kim so eun seorang wanita cantik juga pandai lahir di desa Jangho yang berada di provinsi Gangwon. Salah satu desa terindah di korea. Tapi, beberapa tahun lalu ia mendapatkan undangan beasiswa di Seoul National University. Kesempatan itu tidak ia sia-sia kan. Demi menggapai cita-citanya, ia rela meninggalkan keluarganya. .
 %%%%%%
 Saat itu pun tiba, dimana ia telah lulus dan siap untuk magang di Rs. Seoul. Ya, ia telah menjadi dokter sekarang. Balasan yang setimpal atas apa yang telah ia perjuangkan. Akhirnya ia bisa meraih apa yang menjadi keinginanya. Dan ia tidak sabar untuk memberikan kabar bahagia ini kepada keluarganya. Ia sangat-sangat merindukan merindukan mereka semua. .
 %%%%%
 . Sampai saat ia kembali pulang kedesa, berniat ingin merayakan kelulusan dengan keluarganya, ia malah dikejutkan dengan berita kematian ayahnya. Mendengar itu so eun pun sangat syok. Niatan ia datang kesini untuk melepas rindu dengan keluarganya dan sekaligus memberikan kejutan atas kelulusannya. Tapi malah ia yang terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar. Berita yang sangat tidak dia inginkan kedatangannya "kematian salah satu anggota keluarganya". . Langsung saja ia masuk kerumahnya, rumahnya yang kecil tapi terasa sangat nyaman baginya. Disana ia melihat ibunya tengah menangis diatas mayat ayahnya yang siap untuk dikebumikan. So eun pun berlari memeluk eommanya. " Eomma...hikks...hikss.. Apa yang terjadi eoh.. " " Eunnie...hiks...akhirnya...hiks...kau datang...hikss...na " lirih eomma sso. " Apa yang terjadi dengan appa eommaa... Hiks... " kata so eun. Sebelum eomma nya menjawab, tiba-tiba seorang laki-laki memanggilnya dan langsung saja memeluk so eun dengan erat. " Eunniee... " lirih jong in. So eun pun menoleh dan dikagetkan dengan pelukan oppa nya yang tiba-tiba. " Oppa...hiks...appa...hiks.." jongin pun memeluk so eun semakin erat. Kedua kakak beradik itu terhanyut dengan kesedihan sekaligus kerinduan yang entah mengapa terasa sangat menyakitkan. . %%%%% . Ayahnya telah dikebumikan 2 jam yang lalu. Orang-orang yang berdatanganpun telah pulang kerumahnya masing-masing sejak 1 stengah jam yang lalu. Kini kedua kakak beradik itu berada di kamar Sso, hening...tidak ada yang berniat membuka suara . So eun masih sangat syok dengan kejadian hari ini. Sedangkan eomma langsung mengurung diri dikamarnya setelah pemakaman itu. " Oppa" lirih so eun " Ne" jawab jong in " Sebenarnya...apa yang terjdi " tanya so eun menatap oppanya dengan sendu. " Sebenarnya...appa memiliki kanker otak stadium akhir sso" jawabnya sambil menunduk. " ka-kanker... Sejak ka-kapan?... Kenapa oppa tidak memberitahuku eoh...kenapa oppa tidak...tidak menghubungiku. " tanya so eun sambil menatap oppanya kecewa. " Mian sso" lirih jong in. Jong in pun memeluk adiknya dengan erat sambil mengusap rambut adik kesayangannya. Setengah jam mereka terdiam, sso pun terlelap. Mungkin karena ia kelelahan selama di perjalanan menuju kemari dan juga lelah karena hampir seharian ini ia menangis. .
 %%%%%
. Malam pun tiba, so eun bangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling dan ia pun teringat kembali tentang ayahnya. Ia harap itu hanya mimpi. Pintu kamar terbuka menampakkan jong in, dan ia sadar bahwa itu semua bukan mimpi. Itu semua nyata. Oh Tuhan. "Sso, kau sudah bangun" tanya jong in. Ia pun masuk dan menghampiri adiknya yang masih berbaring dikasurnya. "Ne" lirihnya. "Oppa ingin bicara padamu" "Oppa rasa kamu sudah pantas mengetahui kebenarannya, karena sso sudah dewasa. Benar" ucap jong in. Sso mengangguk. Jongin terdiam sejenak. "Saat itu, saat oppa dan eomma baru mengetahui penyakit appa. Oppa berniat memberitahumu. Tapi, appa melarangnya, appa tidak mau kamu sedih dan akhirnya mengganggu konsentrasimu" "Lalu" "Oppa menyetjuinya, dengan syarat appa mau melakukan operasi. Operasi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit Sso. Jadi oppa meminta bantuan kepada Tugan Kim jung so" "Tuan kim bersedia membantu, tapi dengan satu syarat...." jong in menatap sso sendu. " syarat? Apa itu?" tanya sso. " Dengan syarat....
' .
 TBC